Monday, January 24, 2005

Amaliah Agama Sehari-hari dan Pembentukan Sikap Beragama

Jum'at, 25-07-2003

Amaliah Agama Sehari-hari dan Pembentukan Sikap Beragama
Khatib: Asep Usman Ismail, Dr.
Program: Khutbah Jumat 25 Juli 2003
Narasumber: DR. H. Asep Usman Ismail, M.A.
Tema: Amaliah Agama Sehari-hari dan Pembentukan Sikap Beragama
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah menjalankan amaliah agama dengan rutin seperti salat, zikir, dan doa. Keadaan ini harus kita syukuri, namun pada saat yang sama --kalau kita sempat bermenung-- mungkin kita bertanya, "Seberapa jauh amaliah agama sehari-hari yang kita lakukan itu berhasil membentuk sikap beragama?"
Al-Quran mengidealkan sebuah keadaan kala kita telah melakukan amaliah agama dengan kondisi sangat positif. Umpanya, dengan salat kita bisa terhindar dari perbuatan keji dan mugkar. Artinya, fungsi eksternal kita sebagai pemakmur bumi bisa terlaksana dengan baik karena kita tidak menjadi perusak dengan melakukan perbuatan keji dan mungkar. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surah Al-Ankabut: 45:
"Utlu mâ ûhiya ilaika minal kitâbi wa aqimi shshalâta inna shshalâta tanhâ 'anil fakhsyâ`i wal munkar wa ladzikru llâhi akbar wa llâhu ya'lamu mâ tashna'ûn"
Artinya:
"Bacalah yang diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Dalam kenyataan hidup sehari-hari, banyak orang yang menjalankan salat, tetapi tetap melakukan perbuatan keji dan mungkar, semisal memfitnah, berzina, menindas orang lain, mengundang keresahan dalam masyarakat, menggelapkan uang negara, memberikan keterangan palsu kepada publik, dan sebagainya.
Demikian juga zikir. Dalam Al-Quran, surah Al-Ra`d: 28, disebutkan:
Alladzîna âmanû wa tathma`innu qulûbuhum bi dzikri llâhi alâ bi dzikri llâhi tathma`innul qulûb
Artinya:
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram."
Tapi, tidak terhitung jumlah orang-orang yang berzikir tetapi hati mereka tetap resah, jiwa gelisah, hati tidak tenteram, batin sengsara, kehidupan bagai tiada makna, segala yang dihadapi dalam kehidupan terasa berat. Zikir yang mempunyai fungsi internal menenteramkan hati menjadi mati guna. Kondisi ideal gambaran Al-Quran tidak terbukti dalam kenyataan.
Semua fenomena yang disebutkan di atas adalah fakta dan tidak dapat dipungkiri kebenarannya. Tidak jarang hal itu menimbulkan pertanyaan yang menggelitik,"Apakah janji-janji agama tidak benar adanya?" atau dengan pertanyaan yang lebih menukik, "Mengapa salat yang kita lakukan menjauhkan kita dari segala tingkah laku tercela?" dan "Mengapa zikir yang kita amalkan belum mendatangkan kedamaian dalam kehidupan?" ini yang akan dicoba untuk dijawab dalam pertemuan kali ini.
Ada beberapa tahap orang menjalankan amaliah agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, menjalankan amaliah agama pada tataran ritualitas. Orang-orang seperti ini melaksanakan amaliah agama hanya sampai pada tahap memenuhi syarat-syarat dan rukun formal ibadah. Semisal salat, mereka telah mengucapkan bacaan-bacaan salat dengan baik dan melaksanakan gerakannya dengan sempurna; sedangkan zikir, mereka telah membaca beragam ungkapa-ungkapan dari Al-Quran, Hadits, atau amaliah para ulama terdahulu, juga dengan baik. Tetapi, masalahnya ada pada ruh amaliah itu. Yang mereka lakukan ibarat formalitas tanpa jiwa dan makna. Betapa tidak, mereka tidak memahami arti bacaan salat dan zikir mereka. Mereka tidak memiliki wawasan yang cukup untuk bisa memetik makna di balik amaliah agama yang mereka lakukan, bagaimana kemudian mereka bisa mendalami kandungan filosofisnya; apalagi sampai menerapkan fungsinya dalam segala aspek kehidupan.
Kedua, menjalankan amaliah agama, memahami bacaan, dan berwawasan cukup luas mengenai apa yang mereka laksanakan, tetapi pemahaman dan pengertian mereka berhenti pada tahapan kognitif. Salat dan zikir yang mereka lakukan terhenti pemakanannya di kepala, tidak tembus ke lubuk hati. Di sana tidak ada penjiwaan. Akibatnya, amaliah agama mereka hampa makna. Mereka yang berada pada tahap ini juga sulit untuk membuat salat dan zikir mereka mewarnai kehidupan. Padahal beragama itu harus dihayati dengan perasaan terdalam agar bisa memberi efek dalam kehidupan sehari-hari.
Innmal mu`minûna lladzîna idzâ dzukira llâhu wajilat qulûbuhum wa idzâ tuliyat 'alaihim âyâtuhû zâdathum îmânan wa 'alâ rabbihim yatawakkalûn
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan pada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
"Adakah kita termasuk orang-orang yang digambarkan dalam ayat di atas? Mari kita renungkan.[mu]

MASJID AGUNG AT-TINcopyright © 2001-2002 at-tin.org All rights reserved



0 Comments:

Post a Comment

<< Home